Stunting Dan Pembangunan Ekonomi Indonesia

2 Likes Comment
Stunting Dan Pembangunan Ekonomi Indonesia
WEKERINDO, Artikel – Tahun 2016 menjadi momen dimana perkenomian Indonesia lambat membaik semenenjak terjadi badai ekonomi di tahun 2015 karena arah alokasi belanja negara APBN 2016 yang mulai sejalan dengan Sembilan program prioritas (nawa cita) pemerintah ditambah paket kebijakan Presiden Jokowi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia sama-sama membuahkan hasil. 
 
Paket kebijakan itu diantaranya: Pemangkasan Investasi pemerintah guna meningkatkan efektivitas dan produktivitas secara nasional beberapa diantaranya berkaitan dengan ijin investasi pada kawasan industri dan kegiatan ekspor impor; pengoptimalisasian sektor unggulan dari masing-masing Kanwil melalui program focusing, mengurangi transfer pricing  dan fraud, data matching, optimalisasi sektor IT, e-tax invoice disertai perbaikan regulasi yang lebih mantap.

Tahun 2016 juga menjadi saat dimana Indonesia memasuki tahun penegakan hukum (Law enforcement) dan yang terakhir adalah kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty. Sayangnya, rencana penerapan tax amnesty ini masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah anggapan kalau penerapan pengampunan pajak tersebut lebih ditekankan pada permasalahan pemenuhan target penerimaan pajak yang selama ini ditutup-tutupi.

Artinya, tax amnesty ini tak lebih dari pengampunan pajak bagi Wajib Pajak (WP) yang menyimpan dananya di luar negeri tetapi tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar pajak lewat imbalan menyetor pajak dengan angka yang lebih rendah. Dan ini menjadi angin segar bagi elitor Indonesia, para pengusaha dan masyarakat kelas atas untuk menyimpan uangnya di luar negeri dan menghindari kewajiban membayar pajak kepada negara.

Baca Juga : Berbahayakah Menjadi Radikal?

Di lain pihak, percepatan pembangunan Indonesia tersebut, atau melalui arah alokasi APBN 2016 yang di sesuaikan dengan 9 agenda prioritas, disalah satu sektor yakni percepatan pengetasan kemiskinan, tampaknya masih belum membaik. APBN 2016 yang merupakan salah satu upayanya adalah meningkatan bantuan kepada masyarkat miskin dan tidak mampu dengan memberikan bantuan tunai bersyarat kepada 6 juta keluarga, dan mengikutsertakan penerimaan bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional kepada 92,4 juta jiwa dengan penyelarasan besaran premi bagi penerima masih belum efisien.
 
Disamping program sejuta rumah bagi kepala keluarga miskin, program-program perlindungan sosial seperti Kartu Indonesia Pintar serta Kartu Indonesia Sehat. Efektivitas program kerja itu ditingkatan oleh pemerintah melalui pengarahan semua kementrian/lembaga untuk menyusun rencana strategi pembangunan dan anggaran yang lebih manjur berbasis kinerja yang komprehensif pada tahun 2016 atau kebijakan Dana Alokasi Khusus melalui mekanisme penyampaian usulan kegiatan dan kebutuhan pendanaan dari PEMDA ke Pusat sesuai dengan kebutuhan real masing-masing daerah masih juga belum maksimal. 

Baca Juga : Praksis Bersama Untuk Indonesia

Disamping itu proses pengetasan kemiskinan di beberapa daerah cenderung fokus untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota atau antara desa dan ibu kota kabupaten dengan cara mendorong desa agar mandiri, yang malah ikut berpengaruh pada pembangunan Indonesia secara spesifik, karena proses pemandirian desa ini akan menciptakan persaingan, padahal tujuannya adalah untuk membangun desa secara bersamaan dengan potensi dan kualitas yang ada padanya, bukan memeratakan melainkan meningkatkan kontribusi desa bagi pembangunan fisik maupun non fisik bangsa.
Namun patut disadari banyak hal yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi terkait, dua diantaranya adalah rapuhnya pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2016 disebabkan oleh kondisi ekonomi dunia serta tidak seimbangnya peluang tiap anak Indonesia.
 

Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Antara Tanggungjawab Dan Peran Aktif Pelaku Ekonomi Indonesia

 
Pertumbuhan ekonomi dunia memang sedang menurun diikuti lemahnya kepercayaan satu sama lain membuat percepatan ekonomi mengalami kebuntuan yang berarti. Bank dunia kemudian merevisi angka pertumbuhan dunia pada juni turun beberapa persen. Pada bulan januari evaluasi perkembangan ekonomi dunia berada di angka 2,4% dan pada bulan juni lalu turun menjadi 2,9%. 

Ini dikarenakan lambatnya pertubuhan ekonomi Tiongkok dan perubahan strukturan ekonomi di negara tersebut berpengaruh terhadap negara-negara yang melakukan ekspor ke Tiongkok salah satu contoh ialah Argentina yang mengekspor 35% ke Tiongkok. Kondisi yang sama juga dialami negara-negara di Amerika latin, Afrika, Asia Tengah serta Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indonesia sendiri mengekspor barang sebesar 11% ke Tiongkok.

Baca Juga : Mengapa Harga Kopra Turun?

Negara-negara berkembang selama dua dekade terakhir yang menjadi maskot pertumbuhan ekonomi dunia saat ini menghadapi tantangan berat yang datang bersamaan secara sempurna yang lazim disebut perfeck strom.  Perfeck storm adalah sebuah istilah yang mengindikasikan melemahnya ekonomi perdagangan dunia, perlambatan dan perubahan struktural secara ekonomi, rendahnya harga komoditas, menurunya aliran modal negara berkembang, meluasnya konflik dan radikalisme politik, serangan terorisme serta perubahan iklim global. Negara-negara pengekspor komoditas, dengan program dan upaya pengetasan penduduk miskin seperti Indonesia mengalami pukulan paling keras. Sebanyak 40 persen revisi penurunan ekonomi dunia berasal dari kelompok negara pengekspor.
 
 Kondisi seperti ini membutuhkan kerjasama yang erat dan kuat untuk membuat koordinasi kebijakan antar negara-negara berkembang. Kerjasama ini untuk membangun kembali kepercayaan, dan menghilangkan halangan perdagangan dan investasi demi menunjang produktivitas Sumber Daya Manusia dan memulihkan pertumbuhan ekonomi secara bersama-sama. 
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Brexit yang dilakukan inggris untuk keluar dari Uni-Eropa merupakan salah satu contoh. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memang punya potensi besar dan bisa menjadi pelaku ekonomi global yang disegani. Namun potensi ini harus diwujudkan menjadi kinerja dan prestasi oleh pelaku ekonomi. Untuk itu, Indonesia memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terus berperan aktif dalam proses pembangunan bangsa. Kreatifitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban dan keadilan sosial tetap di junjung. 
 
Data-data mutakhir bukan saja memberikan optimisme tetapi juga mengingatkan akan besarnya tantangan memajukan Indonesia. Lantas, bagaimana bangsa Indonesia yang beraneka ragam ini mampu melangkah maju bersama untuk masa depan yang lebih baik? Untuk menjadi SDM yang berperan aktif masyarakat diminta menciptakan peluang untuk melahirkan kemajuan ekonominya. Melalui globalisasi, dunia mengalami persempitan yang mampu menyatukan umat manusia, bisnis, modal, teknologi, informasi dan pengetahuan yang terus tersebar tanpa mengenal zona waktu ataupun batasan negara. Ibaratnya globalisasi adalah sebuah Global village. Negara-negara yang sukses mengentaskan kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi tersebut, serta membangun ketahanan dan menjaga diri dari gejolak globalisasi.

Baca Juga : Mengintip Strategi Indonesia 
 
Indonesia tidak terkecuali. Konteks demikian bagi Indonesia, dengan ditanamkannya visi global dan cita-cita untuk mendunia yang terletak dalam pancasila sudah lama ditanamkan oleh pendidi bangsa ini. Dalam waktu 50 Tahun terakhir, Indonesia telah memangaatkan perdaganan dan investasi global untuk mengatasi kemiskinan dan memajukan pembangunan. Meningkatnya integrasi ASEAN salah satu merupakan peluang besar. 
 
Perdangan intra-ASEAN memberikan pendapatan sebesar US$ 600 miliar per tahun dan perdaganan dengan negara di luar ASEAN mencapai US$ 1,9 Triliun per tahun. Namun disadari, integrasi ASEAN yang lebih mendalam dapat menjadi katalis yang dapat mempercepat atau memperlambat mentrasformasi produktivitas tenaga kerja Indonesia. 
 
Tantangan besar untuk Indonesia kemudian terletak pada kenyataan rata-rata upah di bidang manufaktur adalah yang terendah di Asia namun biaya per unit tenaga kerja yang relatif tinggi merupakan cerminan produktivitas tenaga kerja Indonesia yang belum membaik. Integrasi pasar global juga menghendaki dukungan infrastruktur untuk konektivitas yang efisien dan kompetitif. Biaya perdagangan Indonesia saat ini relatif tinggi, sekitar 130 persen dibandingkan 90-110 bagi Malaysia, Vietnam dan Thailand. 
Baru-baru ini paket kebijakan perdaganan untuk mengurangi hambatan perdaganan dan investasi Indonesia patut dipuji. Ini perkembangan yang baik, karena sebelumnya, menurut laporan Global Alert, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling sering menerapkan hambatan perdaganan. Fokus pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh kepulauan Indonesia merupakan langkah yang tepat. Indonesia harus terus memelihara keterbukaan dalam kebijakan, dan diserta upaya memperkuat kualitas SDM dan kualitas kelembagaan. Ini cukup penting agar mampu menopang peran dan kepemimpinan Indonesia di Asia maupun di dunia. Bersamaan dengan itu, salah satu hal yang patut diperhatikan oleh pemerintah adalah Kurangnya Nutrisi bagi ibu dan anak (stunting) yang menyebabkan ketiadaan peluang bagi anak untuk ikut berperan aktif bagi pembangunan Indonesia.
 

Stunting : Bukan Masa Depan Indonesia

 
Ketimpangan yang terjadi didalam Indonesia ternyata ikut mengubur peluang setiap individu untuk berperan aktif dalam pembangunan. Koefisien gini Indonesia meningkat tajam misalnya pada tahun 2003 berjumlah 30 persen sedangkan pada tahun 2014 menjadi 41 persen. Ketimpangan yang tajam ini bisa menghambat potensi pertumbuhan Indonesia jangka panjang. Itu berarti evaluasi kesehatan sangat diperlukan. Dan masalahnya bagi Indonesia, ketimpangan tersebut ternyata banyak ditentukan oleh hal-hal yang diluar kendali penderita.
Sri Mulyani Indrawati, mantan managing director dan Chief Operating Bank Dunia, yang dua kali menjabat sebagai Menteri Keuangan RI era SBY dan terakhir era Jokowi dalam pidatonya di depan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia di Depok pada tanggal 26 Juli lalu, mengatakan bahwa sekitar 37 persen balita Indonesia mengalami stunting, atau tidak menerima nutrisi yang cukup, mulai dari kandungan hingga usia 2 tahun. 
Stunting akan mengakibatkan otak seorang anak kurang berkembang. Ini berarti 1 dari 3 anak Indonesia akan kehilangan peluang lebih baik dalam hal pendidikan dan pekerjaan selama sisa hidup mereka. Dan ini merupakan pekerjaan dunia bagi pemerintah dan lembaga terkait. Tingkat stunting Indonesia sangat tinggi dibanding dengan negara tetangga. Misalnya di Thailand tingkat stunting berada di angka 16 persen dan Vietnam 23 persen. Dinas kesehatan di setiap daerah dan Menteri Kesehatan harus mengangani kasus stunting ini secara serius mulai sekarang. 
 
Kiranya, proses penanganan stunting ini dapat berhasil. Peru adalah salah satu negara yang telah berhasil menurunkan angka stunting di negaranya secara kredibel. Dengan demikian, perolehan peluang semua anak di Indonesia dapat dikatakan sama. Karena kesehatan memiliki andil besar untuk pembangunan bangsa. Keseriusan pemerintah memang sangat diperlukan untuk mengatasi tingginya angka stunting. 

Baca Juga : Melihat Perat BPKM Dalam Pengawasan Investasi Negeri
 
Salah satu cara untuk menguranginya adalah melalui intervensi gizi yang berhubungan dengan pemberian makanan bergizi kepada anak dan ibu. Dan intervensi ini perlu di intensifkan oleh pemerintah atau dinas terkait. Beberapa bukti ilmiah, intervensi tersebut merupakan paket Intervensi Gizi Efektif (IGE), yang merupakan rangkaian layanan sekak pra-kehamilan sampai usia dua tahun, yang mencakup 1.000 hari kehidupan. 
 
Dan hal ini perlu di kembangkan di tiap kabupaten/kota, atau provinsi, dengan menggandeng bagian-bagian dari paket tersebut di luar sektor kesehatan serta melibatkan para pemangku kepentingan lain. Sehingga angka stunting ini memiliki koordinasi yang tepat dan integral. Dengan kata lain, kampanya komunikasi di kapupaten/kota, provinsi harus menggunakan argumen tentang kinerja pendidikan di barengi kinerja kesehatan guna menciptakan peluang kemajuan sumber daya manusia di Indonesia.

Baca Juga : Pictograph Untuk Anak-Anak Cacat Mental
 
Kesempatan yang akan memberikan kehidupan yang lebih baik, guna mempelopori perkembangan Indonesia yang lebih maju. Upaya untuk mengurangi angka stunting di Indonesia adalah upaya untuk memberikan peluang yang sama bagi setiap anak bangsa yang baru lahir. Cakupan bantuan keluarga yang sangat miskin harus diperluas dari 6 juta diatas harus benar tepat sasaran dan maksimal. Hal ini dikarenakan biaya bersalin dan biaya rumah sakit atau obat-obatan yang masih tergolong mahal. 
 
Komitmen untuk mengurangi stunting bagi anak di bawah umur 5 tahun bisa dengan berbagai cara antara lain meningkatkan standar sanitasi, akses air bersih yang memadai dan kebersihan lingkungan, meningkatkan ketaatan pengkonsumsian tablet dari 33% menjadi 35-43 % dan suplementasi zat gizi melalui tablet atau Fe serta memantau kesehatan Ibu dan anak dalam jenjang waktu tertentu secara berkala. 
 
Hingga akhirnya, angka stunting di Indonesia dapat berkurang dari waktu ke waktu dengan peran serta pemerintah yang gigih dan peduli, karena masa depan Indonesia terletak pada generasi muda yang sehat, kuat dan memiliki peluang yang sama, untuk menjadikan Indonesia yang lebih sehat, lebih baik dan sejahtera. Karena masa depan Indonesia bukan terletak pada stunting melainkan pada kesejahteraan bersama (Bonum Comune).

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.