Narasi Yang Tak Terdengar Dari Orang Papua Dibalik Penembakan Di Nduga

2 Likes Comment
Narasi Yang Tak Terdengar Dari Orang Papua

Narasi Yang Tak Terdengar Dari Orang Papua Dibalik Penembakan Di Nduga – Mungkin anda sudah membaca berita akhir-akhir ini. Televisi menyiarkannya terus menerus baik pagi, siang ataupun malam. Komentator terus memberikan argumen tanpa henti. Analisis dan pakar juga sudah mengalisi dari berbagai macam faktor.

Seringkali, dalam situasi macam ini, ada saja narasi yang tak terdengar. Dan juga tidak mau kita dengar. Entah kenapa alasannya dan untuk apa.

Dalam kasus yang sering kita tidak dengar adalah suara orang Papua sendiri. Bagaimanakah orang Papua menarasikan peristiwa pahit seperti pembunuhan di Nduga ini?

Saya tidak menyuruh anda untuk menyetujui pandangan ini. Kita tidak memerlukan penyelidik yang benar-benar independen untuk mengetahui apa yang terjadi. Kita tidak membutuhkan ahli-ahli forensik dan para penegak hukum yang objektif.

Namun, beberapa kali kejadian seperti ini, hasilnya malah menambah kebingunan. Lagipula, banyak temuan yang tidak ditindaklanjuti. Apa yang terjadi dalam temuan tim percari fakta kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, misalnya? Jika di Indonesia saja kita tidak mampu, apalagi di Papua.

Baca Juga : Papua Memang Harus Diberikan Kebebasan Memilih Nasibnya Sendiri

Tulisan dibawah ini ditulis oleh seorang insinyur. Dia orang Asli Papua. Dia juga menyandang Magister Tehnik dan lama bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Papua.

Argumen tulisan ini sederhana saja. Peristiwa di Nduga terjadi akibat militerisasi di daerah pegunungan Meepago dan Lapago. Dulunya, penduduk disini sangat dekat dengan orang Amber, pendatang menurut bahasa setempat. Namun, kehadiran Militer (baik tentara maupun Polisi – Brimob yang sesungguhnya adalah pasukan infantri) mengacaukan situasi.

Salah satu akibat terburuk dari Militerisme adalah bagaimana dia menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Karena kepentingan intelejen, militer mulai menyaru menjadi apa saja – Guru, buruh, pedangan keliling, dst.

Disini permusuhan muncul…

Belum lagi, jika intelejen militer melakukan penggalangan dan perang psikologis. Kalau saja anda belajar akan apa yang terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1967, anda akan tahu bagaimana brutalnya operasi intelejen.

Untuk memisahkan gerilyawan PGRS/Paraku dari orang Cina dan Dayak yang sering memberi makan, maka militer membunuh beberapa Temenggung Dayak, memotong kelaminnya, memasukan ke mulutnya, dan menulis aksara Cina di tubuh pemuka Dayak itu.

Baca Juga : Brutalnya Operasi Intelejen di Kalimantan Barat, 1967

Hasilnya? Sebuah epiose sejarah yang paling menyakitkan (dan tidak pernah diceritakan) terjadi. Orang Dayak marah dan mengusir puluhan ribu orang Cina dari pedalaman.

Tragedi kemanusiaan ini tidak pernah dibicarakan. Namun, akibatnya ditanggung sampai sekarang. Yang lebih penting lagi, pola orasi itu menjadi pakem (playbook) operasi anti-gerilya.

Saya tidak menceritakan tanpa dasar, mantan Panglima Kodam Tanjungpura, Mayjen TNI Soemadi, menulis sebuah buku yang menceritakan operasi itu, yang dia namakan dengan Psy War.

Jika anda meneruskan membaca tulisan ini sampai bawah, perlakukanlah tulisan ini sebagai satu narasi. Anda boleh mempercayainya. Boleh juga tidak. Namun, narasi seperti ini mungkin akan membantu anda untuk melihat masalah dengan lebih jernih.  (Facebook/Made Supriatma)

Baca selanjutnya mengenai Narasi Yang Tak Terdengar Dari Orang Papua yang diangkat oleh Made Supriatma yang ditulis oleh Awi JR dengan judul : Penembakan yang Ironis di Nduga Papua.

 

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.