Mengenal Secara Singkat Ensiklik Paus Fransiskus

3 Likes Comment
Ensiklik Paus Fransiskus

“Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang menopang dan mengasuh kami dan menumbuhkan berbagai buah-buahan beserta bunga warna-warni dan rerumputan” – Nyanyian Saudara Matahari atau Gita Sang Surya dalam karya-karya St. Fransiskus Dari Asisi, Ensiklik Paus Fransiskus, Laudao Si.

Pendahuluan

Secara pribadi, saya patut bersyukur karena Kelompok Studi Seminari Hati Kudus Yesus Skolastik Pineleng yang telah dan sukses mengadakan seminar mengenai ensiklik baru Paus Fransiskus setelah lima bulan ensiklik itu terbit yang sebelumnya hanya dikenal lewat internet dan sangat sedikit informasi yang didapatkan atas tanggapan gereja katolik mengenai krisis ekologi yang menghantam dunia. Sebelumnya, pada tanggal 18 Juni 2015, ensiklik laudato si’ diterbitkan dalam delapan bahasa secara serentak (Italia, Jerman, Spanyol, Prancis, Polandia, Portugal, Inggris dan Arab) dan berkat Romo Martin Harun OFM dan OBOR saya menikmati suguhan tentang ensiklik ini.

Dan benar, inilah ensiklik yang secara resmi saya dapat baca secara keseluruhan sejak Rerum Novarum diperkenalkan Waktu SMA dan luar biasa hasilnya mengingat krisis ekologis itu memberikan dampak serius bagi kehidupan masyarakat tanpa ada pengecualian. Embrio-embrio kesadaran global bagi keadaan lingkungan sekitar memang perlu di tancapkan pada setiap individu di bumi ini dengan satu harapan bahwa krisis ekologis ini tidak memakan korban lebih banyak lagi.

Demikian pula mengenai gagasan pertobatan ekologi global demi menunjang kualitas hidup manusia dan iman. Untuk itu, semua masyarakat perlu menyelami secara reflektif tulisan-tulisan dari Paus Fransiskus ini dengan asumsi bahwa Allah sudah mempercayakan bumi kepada manusia tetapi karena hidup manusia itu sendiri merupakan hadiah yang harus dilindungi dari berbagai bentuk degrasi dan tidak bisa tidak. Karena dengan begitu, pengembangan manusia yang otentik, bermoral dan bertanggungjawab adalah penghormatan penuh terhadap tiap pribadi manusia dan Allah.

Baca Juga : Teologi Pembebasan

Ensiklik ini ternyata memiliki dampak yang besar bagi gereja karena mampu menjaninkan gagasan dan sikap reflektif dari banyak ilmuwan, cendekiawan, filsuf, theolog, masyarkat sipil dan juga agamawan dari berbagai kalangan dan latar belakang. Diluar gereja katolik, gereja dan komunitas agama lain telah menyatakan keprihatinan mendalam dan menawarkan sebuah refleksi berharga tentang salah satu isu besar umat manusia era ini.

Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarah alam sesuka hati. Kerakusan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada suatu bentuk kehidupan nyata. Oleh karena itu, bumi terbebani dan akhirnya hancur.

Kita lupa bahwa kita berasal dari tanah, tubuh kita tersusun atas partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan disegarkan oleh airnya tapi kenapa kita manusia masih terus-terusan mengeksploitasi secara besar-besaran demi mengeruk keuntungan setinggi-tingginya. Atas dasar keuntungan ekonomi kita juga membenarkan eksploitasi terhadap manusia sebagai tenaga kerja dan atas dasar kepentingan kita membenarkan kejadian yang tidak bermartabat itu.

Upaya-upaya lain untuk menanggulangi kejadian ini tak mampu membenarkan tindakan kita sebagai yang disebut manusiawi.  Bilamana kejadian ini terus dipertahankan, dan bilamana tindakan ini terus-terusan menyisahkan moral hazard yang kian mengganas, maka sebenarnya kita telah menyalahi hakikit penciptaan kita sebagai yang menjaga.

Baca Juga : Menjadi Pemimpin Yang Pluralis Dan Ekologis

Paus Fransiskus kemudian, dalam refleksinya, tidak ingin menulis surat edaran paus ini tanpa kembali ke sebuah model yang menarik dan mampu memotivasi seluruh umat manusia. Ia terinspriasi pada sikap hidup Santo Fransiskus dari Asisi hingga memilih nama itu setelah terpilih sebagai Uskup Roma. Dan Paus Fransiskus percaya bahwa Santo Fransiskus Asisi merupakan contoh unggul dalam melindungi yang rentan dan dalam suatu perspektif ekologi yang integral, yang dihayati dengan gembira dan otentik. Dia adalah Santo Pelindung bagi semua yang belajar dan bekerja di bidang ekologi. Teladan St. Fransiskus ini kemudian membantu setiap manusia untuk melihat bahwa ekologi yang integral membutuhkan keterbukaan terhadap kategori-kategori yang melampau bahasa matematik dan biologi, dan membawa manusia kepada hakikatnya.

Tanggapannya terhadap dunia di sekelilingnya jauh melebihi apresisasi intelektual atau perhitungan ekonomi, karena baginya, setiap mahluk adalah saudari yang bersatu dengannya oleh ikatan kasih sayang. Itu sebabnya, ia marasa terpanggil untuk melindungi semua yang ada. Muridnya, St. Bonevantura, mengatakan bahwa “Ketika merenungkan bahwa segala sesuatu memiliki asalah usul yang sama, Fransiskus dipenuhi dengan rasa kasih yang kian besar dan memanggil semua makhluk, tidak peduli seberapa kecil dengan nama saudara atau saudari”

Baca Juga : Pesan Natal Dari Banggai Kepulauan

Dalam eksiklik ini akan ditemui enam Bab. Bab pertama akan bahas mengenai yang terjadi di Bumi Era ini mulai dari perubahan iklim, masalah kebersihan air, hilangnya keanekaragaman hayati sampai pada keberagaman pendapat; Bab Dua akan di bahas mengenai Kabar Baik dari Penciptaan, dan dengan berangkat dari dasar-dasar biblika tawaran dari bab ini adalah tentang kekuatan cahaya iman, juga tentang misteri alam semensta dari perspektif kristiani, serta tatapan Kristus sendiri mengenai krisis ekologi ini; Bab tiga mengungkap mengenai Akar Manusiawi Krisis Ekologis yang mengupas tentang Teknologi bersarta dampak negatifnya, tentang ilmu pengetahuan antroprosentrisme moder dan bahkan tentang teknologi biologis yang diciptakan akhir-akhir ini;

Bab empat akan dibedah Mengenai prinsip-prinsip ekologi yang integral dan dengan berangkat dari kondisi ekologi lingkungan, ekonomi dan sosial hingga keadilan yang harus di wariskan pada tiap generasi; bab lima adalah tentang orientasi dan aksi beserta beberapa pedoman mengenai Krisis ekologis yang diakhiri dengan harapan akan dialog yang bermartabat guna mencapai kesepakatan dan solusi bagi krisis ekologi ini dan terakhir bab tujuh akan bahas mengenai pendidikan dan spiritualitas, sebab untuk menuju gaya hidup yang baru, dengan symposium antara perjanjian antara manusia dan alam melalui pendidikan dapat sedikit demi sedikit dibangun. Dan ditutup mengenai doa untuk Bumi Kita dan Doa Umat Kristen bersama semua mahluk di bumi ini.

Baca Juga : Revitalisasi Nilai-Nilai Ekonomi Demi Pembangunan Bangsa

Pendahulu Paus Fransiskus, yakni Paus Benediktus XVI pernah mengajak umat manusia dalam pidatonya kepada korps diplomatic yang ditempatkan pada tahta suci tahun 2007 mengatakan “Untuk menghapus sebab-sebab structural dari salah-langkah ekonomi dunia dan untuk dan mengoreksi model pertumbuhan yang ternyata tidak mampu menjamin penghormatan terhadap lingkungan”. Dengan demikian, Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa dunia tidak dapat dianilisis dengan mengisolasi hanya satu aspek, karena “Kitab alam adalah satu dan tak terpecahkan”, dan mencakup lingkungan, mahluk hidup, seksualitas, keluarga, relasi sosial, dan sebagainya. Oleh karena itu, “Kerusakan alam sangat terkait dengan budaya yang membentuk ko-eksistensi manusia”. Dengan kata lain, Paus Benediktus telah meminta seluruh umat manusia beriman bahwa lingkungan alam telah rusak parah karena perilaku kita yang tidak bertanggungjawab. Lingkungan sosial juga rusak parah. Keduanya pada dasarnya disebabkan oleh same crime: gagasan bahwa tidak ada kebenaran yang tidak terbantahkan untuk menuntun hidup kita, dan bahwa karena itu kebebasan manusia tak terbatas.

Disamping itu juga, dalam ensiklik ini akan disuguhkan mengenai sumbangan-sumbangan dari pujangga-pujangga Gereja. Patriakh Ekumenis Bartolomeus misalnya yang telah berbicara secara khusus tentang perlunya kita masing-masing bertobat dari cara kita memperlakukan planet ini, “Sekecil apapun kerusakan ekologis yang kita timbulkan”, kita dipanggil untuk mengakui “kontribusi kita, kecil atau besar, terhadap luka-luka dan kerusakan alam”.

Baca Juga : Kebebasan Akademis

Dan Patriarkh Ekumenis Bartolemeus sudah berulang kali menyatakan hal ini dengan tegas dan meyakinkan, sambil menantang kita untuk mengakui dosa-dosa kita terhadap dunia ciptaan: “Bila manusia mengharcurkan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan; bila menusia mengurangi kebutuhan bumi ketika menyebabkan perubahan iklim, menggunduli bumi dari hutan alamnya atau menghancurkan lahan-lahan basahnya; bila manusia mencemari air, tanah, udara, dan lingkungan hidupnya–semua ini adalah dosa”. Demikian pula tentang keteladanan St. Fransiskus Dari Asisi yang menunjukan kesederhanaan dan kemiskinan yang sebenarnya bukanlah asketisme yang hanya lahiriah, tetapi sesuatu yang jauh lebih radikal: Ia menolak mengubah realitas objek yang hanya untuk digunakan dan dikendalikan.

Nah, dengan demikian menjadi jelas bahwa keprihatinan atas lingkungan bukanlah milik satu individu atau lembaga saja, tetapi milik semua orang. Untuk itu, keinginan mengobati luka alam adalah merupakan bantuan pertobatan bagi tiap manusia. Menjaganya adalah kewajiban dan memanfaatkannya adalah keharusan yang tidak boleh di anggap sepele. Karena krisis ekologi adalah juga krisis kemanusiaan, dan krisis kemanusiaan akhirnya berdampak pada krisis tentang diri sebagai citra Allah.

Patut disadari, refleksi theologis dan filosofis tentang situasi umat manusia dan dunia dapat terasa melelahkan dan abstak, jika tidak muncul suatu konfrontasi dengan konteks sekarang ini, yang sarat akan hal-hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Jadi sebelum pertimbangan tentang iman yang membawa dorongan dan tuntutan baru berkaitan dengan rumah kita bersama, yakni bumi, kita berhenti sejenak sambil mengusulkan untuk memprtimbangkan apa yang sedang terjadi didalam rumah kita itu. Tujuannya tentu untuk mulai membangun fondasi kokoh kesadaran penghuni rumah itu dari romantisme nilai ekonomis dan hibernasi keprihatianan atas ekologis serta kemisikinan dan dengan begitu, semua mendapatkan sumbangsih real mengenai sasaran, tujuan dan penanggulangan dini melalui seruan ekologis bagi pertobatan ekolgis semua umat beriman di bumi ini. Nah, yang terjadi di dalam rumah bersama kita itu adalah krisis. Krisis yang berdampak pada perubahan Iklim hingga Polusi, Limbah dan budaya buang sampah masyarakat yang cenderung tinggi dan rendah dari segi kesadaran.

Baca Juga : Pragmatisme, Bukan Pemikiran Yang Keliru

Dipahami bahwa masalah ini berkaitan erat dengan budaya konsumerisme masyarakat dan kemampuan mencemari yang tinggi oleh masyarakat. Misalnya polusi udara yang kian menjadi, demikian pula limbah dan masalah yang berkaitan erat dengan budaya membuang menjadi indikator bagi pengujian kualitas hidup manusia. Demikian pula mengenai Masalah Air yang menyebabkan kematian setiap hari karena kandungan air yang sudah terancuni oleh zat kimia. Disentri dan Kolera bukanlah satu-satunya penyakit akibat zat kimia itu, masih banyak lagi dari yang kecil mulai iritasi pada kulit sampai pada kerusakan kromosom. Beberapa studi memperingkatkan bahwa kekurangan air yang akut dapat terjadi dalam beberapa decade jika tidak segera diambil tindakan.

Dampaknya pada lingkungan dapat mempengaruhi milliaran manusia; juga diduga bahwa control atas air oleh perusahan air minum multinasional corporation dapa menjadi salah satu sumber konflik utama abad berjalan ini. Juga, Adalah benar bahwa Sumber daya bumi yang dijarah secara membabi buta atas nama konsep ekonomi bebasis perdagangan dan produksi jangka pendek telah memacu langkanya keanekaragaman hayati bahkan hilang sama sekali. Hilangnya Vegetasi dan fungsi hutan turut serta membawa hilangnya sepsis yang dapat menjadi sumber daya penting dimasa depan. Dan barangkali, manusia terganggu ketika mendengar tentang kepunahan mamalia atau burung, karena mereka lebih terlihat.

Baca Juga : Selamat Datang Di Negeri Milaneal

Agar supaya semuanya berfungsi dengan baik, eksosistem juga membutuhkan jamur, lumut, cacing, serangga, reptil, dan aneka mikroorganisme yang tak terhitung. Beberapa spesies yang jumlahnya kecil dan biasanya tidak terdeteksi dengan mata telanjang, juga memainkan peranan penting dalam menjaga keseimabangan tempat tertentu. Untuk itu, dalam menilai dampak ekologi suatu proyek, biasanya dipertimbangkan efek samping atas tanah, air dan udara tetapi tidak selalu diadakan penelitiana tas dampak terhadpa keanekaragaman hayati, yang seolah-olah hilangnya beberapa spesies atau kelompok hewan atau tanaman tertentu tidak terlalu penting.

Sebaliknya, jalan raya, perkebunan baru, pagar-pagar, bendungan, dan bangunan lainnya, secara bertahap menggantikan fungsi habitat, dan kadang memecah-belah hingga populasi hewan berada di level darurat karena tidak dapat lagi bermigrasi atau bergerak bebas. Sebagai contoh paru-paru dunia yang kaya akan keanekaragaman hayati, yaitu wilayah Amazon dan cekungan sungai kongo, atau tempat-tempat air bawah tanah (aquifer) yang luas dan gunung es (gletser) yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia mulai terusik. Bahkan ada proposal internasionalisasi amazon, yang hanya melayani kepentingan ekonomi perusahan-perusahan mulitnasional dan dilain pihak kita tidak boleh lupa untuk memuji komitmen lembaga-lembaga internasional dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang menarik perhatian public terhadap masalah-masalah itu.

Semua hal diatas hanya akan berdampak pada satu ruang yakni: Penurunan Kualitas Hidup Manusia dan Kemerosotan Sosial. Yang mau tidak mau kita harus mempertibangkan bagaimana kerusakan lingkungan, model pembangunan saat ini, dan budaya buang sampah itu berpengaruh secara langsung bagi hidup manusia. Selain itu juga, pengaruh media massa dan dunia digital yang hadir dimana-mana, dapat menghalangi orang untuk belajar hidup dengan kebijaksanaan untuk berpikir secara mendalam, untuk mencintai lingkungan sekitar seperti mencintai diri sendiri dengan hati terbuka. Kebijaksanaan sejati, sebagai buah refleksi, dialog dan pertemuan antara orang-orang yang bermurah hati, tidak tercapai hanya pada akumulasi data yang akhirnya membuat jenuh dan bingung, semacam polusi mental.

Baca Juga : Strategi Pelestarian Budaya dan Bahasa

Dengan demikian, umat manusia tidak mengharapkan sebuah pesan artifisial didalamnya, yang lebih berkaitan dengan perangkat dan keindahan didalamnya, atau pada segi retorika penggunaan bahasa susteranya, tetapi pada interaksi sebenarnya antara manusia dan alam. keadaan sebenarnya tanpa menyembunyikan kerusakan sosial dan total ulah dari manusia. Dan pada akhirnya hanya akan menimbulkan ketimpangan global, tanggapan-tanggapan dari masyarakat lemah yang terus-terus terjadi, hingga keragaman pendapat atas kondisi ekologis yang timbul.

Untuk itu, perlu dipikirkan scenario-skenario yang mungkin pada masa depan tentang penanggulangan ini sebab bisa jadi jalan keluar yang ada bukan hanya satu. Tetapi bukan untuk menciptakan stigma mengenai prediksi kiamat, yang dapat dipastikan bahwa dari berbagai sudut padnagn sistem global saat ini tidak berkelanjutan, karena kita telah berhenti berpikir tentang tujuan dan aktivitas manusia dengan kata lain: “Jika kita mengamati wilayah-wilayah planet kita, segera kita melihat bahwa manusia telah mengecewakan harapan Allah”.

Mengapa dalam semua dokumen yang ditujukan kepada semua manusia yang berkehendak baik, dimuat suatu bab yang mengacu pada keyakinan Iman? Paus Fransiskus sadar bahwa dalam bidang politik dan filsafat, ada yang tegas menolak gagasan mengenai pencipta, atau menganggapnya tidak relevan lalu mengesampingkannya–sebagai suatu yang irasional–kekayaan yang dapat disumbangkan agama-agama kepada suatu ekologi integral dan kepada pengembangan penuh kemanusiaan. Orang lain memandang agama sebagai sub kultur yang hanya perlu di toleransi. Namun, ilmu pengetahuan dan Agama, yang menawarkan pendekatan berbeda dalam memahami kenyataan, dapat masuk ke dalam dialog yang intens dan bermanfaat bagi keduannya.

Baca Juga : Berbahayakah Menjadi Radikal?

Dengan kata lain cahaya yang ditawarkan oleh iman dapat menjajikan umat manusia bagi pendekatan ekologis yang sejati. Mengingat kompleksitas krisis ekologis itu, dan pelbagai sebabnya, semua harus menyadari bahwa solusi tidak akan muncul dari hanya satu cara menafsirkan dan mengubah realitas. Selanjutnya, sementara Laudato Si’ membuka diri untuk berdialog dengan semua pihak secara bersama-sama mencari jalan pembebasan dan iman bagi isu bersama ekologi ini dengan alasan bahwa umat manusia harus melindungi alam dan saudara saudarinya yang paling rentan.

Dengan begitu, sebagai bagian dari refleksi Kristianitas yang bertanggungjawab, Hikmah dari Cerita-cerita alkitab dapat menjadi referensi yang tepat untuk mencapai dialog-dialog yang tepat dan bemartabat. Seperti dalam kitab Kejadian 1:31 yang tertulis bahwa “Allah melihat seaga sesuatu yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” dengan demikian, alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia diciptkan atas dasar cinta, menurut citra Allah yang sesungguhnya. Dan masih banyak hikmah dari alkitab yang patut dijadikan refleksi dan acuan wajar bagi seluruh umat beriman serta menafsirkannya secara bertanggungjawab.

Baca Juga : Mengapa Banyak Yang Menyebut Stadium Generale Sebagai Stadium Generale?

Untuk itu, mengetahui jalan dialog-dialog diatas akan menghantar manusia pada satu sisi lain mengenai hakikat alam semesta ini dan tugas manusia bersama dengan misteri yang ada didalamnya. Meskipun mengandaikan bahwa adanya proses evolusi, manusia juga memiliki proses kebaruan yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dari evolusi sistem-sistem terbuka lainnya. Lewat akal sehat kita bertentang mengenai misteri semesta. Dengan kata lain, tiap manusia memiliki identitas pribadi yang berbeda satu dengan yang lain.

Kemampuan khas manusia untuk berpikir, bertindak, berkreasi, menafsirkan, mengembangkan seni, dan kemampuan-kemampuan lain yang belum ditemukan, menunjukan keunikan yang melampaui bidang fisika dan biologi. Namun keliru ketika memandang mahluk-mahluk lain sebagai objek belaka, yang tunduk pada kuasa manusia yang sewenang-wenang. Dan memandang manusia sebagai objek laba dan kepentingan belaka mempunyai konsuekensi serius bagi masyarakat.

Untuk itu, melalui nyanyian Saudara Matahi St. Fransiskus Dari Asisi kita mengerti bahwa ada satu pesan tersirat dari setiap mahluk dalam harmoni seluruh ciptaan Allah. Karena, alam semesta sebagai keseluruhan, dalam aneka hubungannya, mengungkapkan kekayaan Allah yang tak berbatas. St. Thomas Aqwinas mencatat dengan bijak bahwa keanekaragaman dan pluralitas berasal dari “Niat Pelaku Pertama,” yang mengkhendaki agar “apa yang kurang dalam masing-masing mahluk untuk menggambarkan kelengkapan ilahi dilengkapi oleh yang lain”.

Baca Juga : Pictograph Untuk Anak-Anak Cacat Mental

Dan untuk itu diperlukannya suatu perspektif umum yang jelas melalui persektuan universal mahluk-mahluk di bumi ini. “Mereka adalah milik-Mu, ya Tuhan, yang mencintai kehidupan” (Kebijaksanaan 11:26). Ini adalah fondasi keyakinan bahwa, karena diciptakan oleh Bapa yang sama, kita dna semuah mahluk alam semesta disatukan oleh ikatan yang tidak kelihatan, dan membentuk semacam familia universiter, suatu persekutuan luhur yang memenuhi kita dengan rasa hormat dan suci, lembut dan rendah hati.

Demikian juga mengenai tujuan Umum Harta Benda, yang sepakat bahwa bumi pada dasarnya adlaah warisan bersama yang harus dijaga bersama-sama pula dan hasilnya adalah harus menjadi berkat bagi semua orang. Juga dari perspektif tatapan Yesus mengenai iman alkitabiah akan Allah sang Pencipta, sambil menekankan suatu kebenaran mendasar untuk dapat memaksimalkan tugas ekologis pada kekuatan surgawi dan tanggungajwab manusia.

Dan melalui cara-cara alkitab ini menjadi satu momentum bangkitnya umat manusia dengan campur tangan Allah secara rahasia, dan mengarahkan mereka kepada kepenuhan dan peruntukan mereka. Hingga bunga-bungan di lading dan burung-burung yang ditatap dengan mata manusia-Nya dan dikagumi-Nya, kini dipenuhi oleh cahaya kehadiran-Nya. Sebab, Allah tampil juga dalam setiap mahluk di bumi sebagai perwujudan cinta dan kasihnya atas dunia ini.

Akan tidak berguna untuk menggambarkan  gejala-gejala krisis ekologis tanpa mengakui akarnya dalam manusia. Terdapat suatu cara memahami hidup dan aktivitas manusia yang keliru dan bertentangan dengan realitas dunia hingga merugikannya. Mengapa kita tidak berhenti sejenak untuk memikirkannya? Dalam refleksi ini, Paus Fransiskus menguslkan agar focus tiap manusia pada paradigm teknokratis yang dominan serta tempat manusia dan aktivitasnya di dunia dapat ditelaah kembali sebagaimana mestinya.

Patut diakui, Teknologi merupakan hasil kreasi dan kuasa manusia. Umat manusia telah memasuki gerbang era teknologi dengan kekuatan yang menempatkan manusia di persimpangan jalan. Kita diwariskan oleh gelombang dua perubahan teknologi raksasa: Mesin uap, kereta api, telegraf, listrik, mobil, pesawat terbang, industry kimia, obat-obatan modern, teknologi informasi, dan baru-baru ini sebuah revolusi digital, robot, bioteknologi, dan nanoteknologi mampu mengisi kekosongan kebutuhan manusia atas teknologi.

Baca Juga : Mimpi MEA Berbasis Keadilan Sosial

Semua manusia pantas menyambut dengan gembira penemuan-penemuan ini karena begitu besar kontribusnya agar memudahkan manusia dalam segala hal. Ilmu tehnik diarahkan dengan baik, dapat menghasilkan sarana yang sungguh berharga untuk meningkatkan kualitas hidup, mulai dari peralatan rumah tangga sampai sarana dan prasarana raksasa. Begitupun dengan energy nuklir, bioteknologi, teknologi informatika, pengetahuan tentang Asam Deoxibonucleat (DNA) kita sendiri, serta kemampuan lainnya yang telah diperoleh berkat bantuan teknologi. Semuanya mengisarakan kekuatan dan kekuasaan yang memesona bagi seluruh umat manusia. Tetapi, patut disadari, bahwa manusia tidak sepenuhnya otonom.

Kebebasan manusia memudar ketika menyerahkan diri pada kekuatan buta dorongan bawah sadar; kebutuhan langsung, keegoisan, dan kekerasan. Dalam hal ini, manusia tidak terlindung dari kekuasannya sendiri yang terus meningkat, tanpa ada sarana untuk mengontrolnya secara tepat. Ia mungkin saja dibangun berdasarkan beberapa mekanisme yang dangkal, yang tidak menggambarkan bahwa manusia dengan tipe seperti itu memiliki etika yang kuat dalam mencitpakan mekanisme itu, begitupula tentang budaya dan spiritualitas yang tidak benar-benar dimantapkan untuk kembali menahan diri dan mengarahkannya untuk kemuliaan Allah. ~

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.