Masyarakat Sipil

2 Likes Comment
Masyarakat sipil

Masyarakat sipil adalah suatu kesatuan masyarakat yang berdaulat dengan menggunakan prinsip-prinsip utama bermasyarakat demi mencapai cita-cita bersama. Prinsip-prinsip utama itu dapat ditemui secara bebas dalam keseharian setiap anggota masyarakat.

Entah itu dalam demokrasi, etika, kolektif-kolegial dan sebagainya. Konstruk ini kemudian melebar menjadi suatu keadaan masyarakat yang lebih bebas demokratis agar tujuan utama bernegara sedikit demi sedikit bisa dicapai.

Kerelaan untuk mau memahami pendapat orang lain tanpa bertendensi akan membuat pintu dialog lebih lebar terbuka, dan masing-masing pihak dapat mengkomunikasikan perbedaan-perbedaan diantara mereka dan belajar untuk hidup dengan damai, adil dan pluralis dengan yang lain adalah juga bagian-bagian penting dari prinsip-prinsip utama bermasyarakat.

Baca Juga : Mengapa Banyak Yang Menyebut Stadium Generale Sebagai Stadium Generale?

Meski demikian, sebuah masyarakat demokratis memang tidak dapat lepas sepenuhnya dari konflik-konflik yang timbul dari keberbedaan tadi, karena ketidaksamaan pendapat selalu ada dan akan selalu terjadi.

Tetapi etikanya, tindakan-tindakan brutal akibat perselisihan yang tidak terjembatani atau bentuk dari sikap sosial yang merusak akan terjadi apabila prinsip utama demokrasi diingkari.

Konsukensi masyarakat yang mencari prinsip demokratis adalah berkurangnya suasana yang mudah menyulut api kerusuhan berkurangnya ketakutan dan kepalsuan. Sedangkan resikonya adalah sebaliknya. Maka dengan semangat yang ada, masayarakat sipil menjadi suatu konsep yang mampu menjawab itu secara perlahan-lahan karena hakikatnya yang mendukung secara penuh demokrasi.

Dari sikap demokrasi ini supaya lebih terorganisir kehidupan sosial masyarakat, maka lahirlah suatu konsep tentang masyarakat sipil ini. Masyarakat sipil adalah perpanjangan tangan dari demokrasi. Masyarakat sipil adalah bentuk dari masyarakat sosial yang terbuka, sukarela, otonom dan terikat oleh suatu tatanan legal yang datang dari alam keputusan mayoritas, yang kemudian menjadi seperangkat nilai bersama, untuk kemudian dibenahi dan dikembangkan semata demi kemajuan masyarakat dan juga kelompoknya sendiri.

Baca Juga : Membaca Sastra di Era Digital

Kegiatan yang terjadi dalam masyarakat sipil ini adalah kegiatan kolektif yang terjadi didalam ruang-ruang publik dengan cara mengekspresikan kepentingan-kepentingan, tujuan-tujuan serta ide-ide untuk mencapai cita-cita bersama, yang kemudian mengurai ke dalam bentuk yang lebih kompleks, dimana, cita-cita kolektif tadi menjadi tuntutan utama kepada Negara untuk dipenuhi, memperbaiki sistem dan struktur serta akuntanbilitas pejabat-pejabatnya.

Diakui memang bahwa semuanya tidak dapat hilang seketika, karena manusia yang bisa merosot secara ekstrem juga mampu bangkit kembali melampaui dirinya, memilih kembali yang baik dan memperbaharui dirinya. Perubahan dan gaya hidup bisa membawa tekanan yang sehat pada kualitas hidup masyarakat sipil ini.

Inilah yang terjadi ketika gerakan-gerakan populis yang digalakan berhasil memboikot jenis masyarakat ini yang menyimpang, dengan demikian mereka menjadi efektif dalam perilaku.

Baca Juga : Berbahayakah Menjadi Radikal?

Ketika sikap masyarakat berpengaruh terhadap eksistensi masyarakat ini, mereka ini seolah dipaksa untuk mengubah pola dan orientasinya. Ini mengingatkan kita akan tanggungjawab sosial para pelakunya. Tetapi disadari ataupun tidak disadari kita telah terjebak dalam romantisme masyarakat yang menolak secara halus proses kesejahteraan bersama, dengan diam-diam dibentuk melalui konsespi dan pembenaran demokrasi secara pragmatis.

Walaupun diakui, pragmatis pada akhirnya akan digunakan oleh mereka yang kuat dan berkuasa. Pandangan tentang masyarakat sipil ini kemudian mengajukan paham bahwa setiap penerimaan akan prinsip-prinsip sipilnya tidak otomatis akan membawa pada pilihan-pilihan yang diharapkan dalam pencapaian cita-cita kolektif tadi.

Demikian pula pilihan itu, bukan merupakan sebuah ‘mood’ yang kebetulan lewat atau harapan alamiah yang mendalam. Pilihan itu dapat inplusif dan reflektif. Pilihan ini berasal dari sifat konkret masyarakat sipil sendiri. Bentuk-bentuk, objek-objek bersama alasan-alasan pilihan itu didapatkan lewat pendidikan yakni secara umum melalui kebiasaan ataupun intelegensia sosial.

Baca Juga : Praksis Bersama Untuk Indonesia

Tetapi, masyarakat sipil adalah suatu way of life. Suatu jalan hidup yang bermaksud mengorganisir relasi-relasi manusia agar mengandung cita-cita moral. Namun, apakah cita-cita moral ini dapat diberlakukan sebagai hipotesis? Jawaban umumnya selalu berkata bahwa tidak ada prinsip-prinsip moral yang dapat dipandang sebagai sebuah hipotesis, sebab kita harus memiliki pengetahuan tertentu tentang apa yang dicita-citakan agar mampu menilai konsuekensi-konsuekensinya. Jika posisi masyarakat sipil ini pun mendatangkan pertanyaan, sudah pasti kemungkinan jawaban khususnya pun demikian sebab akan selalu memiliki muatan kepentingan.

Dari paham ini berarti masyarakat sipil juga adalah fenomena yang akan menjadi penengah, yang berdiri diantara ruang privat dan Negara, yang berbeda dengan ruang-ruang lain seperti dalam masyarakat ekonomi, yang semata mencari keuntungan dari bisnis individual sebab kurang mengkhususkan diri pada kehidupan sipil dan ruang publik tetapi mereka dapat membantu menciptakan aturan-aturan tertentu yang datang dari alam kultural demokrasi.

Baca Juga : Strategi Pelestarian Budaya dan Bahasa

Perbedaan antara masyarakat sipil dengan bentuk masyarakat lainnya adalah karena masyarakat jenis ini memfokuskan perhatiannya pada tujuan-tujuan umum bukan khusus sehingga mudah untuk diakses oleh semua warga Negara serta terbuka ruang yang lebih besar untuk berdialog karena sifatnya tidak tertutup dan korporatif.

Selanjutnya adalah kehidupan masyarakat jenis ini dalam beberapa episode selalu berhubungan langsung dengan Negara dan kehidupan politiknya tetapi tidak sedang berusaha merebut kekuasaan melainkan mencari celah untuk merebut keuntungan-keuntungan tertentu dari perubahan kebijakan demi perbaikan hak-hak. Salah satu caranya adalah peningkatan semangat demokratis dalam dirinya.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah masyarakat ini merupakan sebuah simposium tentang teori nilai? dan disini, didalam masyarakat sipil ini, sebuah cita-cita moral menjadi preskripsi (policy) yang bertindak dalam situasi tertentu atau dalam tingkat-tingkat situasi untuk menentukan cara-cara yang akan menata kebutuhan-kebutuhan publik dan keinginan manusia untuk dapat terlibat sedemikian rupa. Namun perlu pemahaman yang khas bahwa nilai-nilai tidak dapat didalilkan secara sembarangan. Konsuekensinya adalah karena tindakan yang berakitan dengan hipotesa dapat membawa kita untuk menentang nilai-nilai yang didalilkan tersebut atau diasumsikan. Asumsi ini pada gilirannya bisa menjadi subjek pengujian yang serupa.

Baca Juga : Mengintip Strategi Indonesia

Memang diakui, tidak ada resep yang seragam yang ada dalam masyarakat sipil ini. karena tiap bentuk masyarakat sipil ini memiliki masasalah dan keterbatasan sendiri. Juga bahwa realisme politik dapat meminta secara tegas langkah dan teknologi transisi yang menjadi tawaran dari modernism yang ada. Dengan demikian, untuk mempertahankan masyarakat sipil harus selalu disertai perencanaan dan pelaksanannya secara bertahap.

Pada bentuk keanggotaan pun masih perlu dilihat motivasi masyarakat sipil ini. dengan mengingat kemungkinan bahwa kemampuan subjek Masyarakat sipil ini digunakan secara bertanggungjawab, setiap anggotanya mempunyai tugas dan kewajiban untuk merencanakan, mengkoordinsikan, mengawasi serta memberikan sanksi bagi penyelewengan. Tetapi bagaimana konsep ini sanggup melindungi masa depannya sendiri?  Satu-satunya factor yang berperan penting sebagai pemandu adalah hukum/ aturan organisasi yang dapat diterima secara umum demi kelangsungan hayati organisasi.

Batas-batas demikian memang perlu ditetapkan agar perjalannya menuju cita-cita yang ingin dicapai bisa dikategorikan sehat, matang dan berdaulat. Dan tentunya berkaitan dengan pandangan kedepan anggota-anggotanya dan kewaspadaan, pengaturan yang wajar, pemantauan penerapan norma-norma konvensional, perang melawan korupsi dalam dirinya dan Negara, serta tindakan taktis lain demi mengontrol efek samping proses-proses pencapaian cita-cita organisasi dan cita-cita kesejahteraan bersama. Dan juga politik praktis dan kerangkannya tidak hanya ada untuk menghindari praktik-praktik yang buruk dan menyimpang, tetapi juga untuk mendorong praktik-praktik yang baik, merangsang kreativitas yang mencari-cari cara baru dan memfasilitasi inisiatif pribadi maupun kolektif.

Baca Juga : Pengertian Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu

Politik yang mengejar hasil langsung yang juga didukung oleh penduduk dengan tingkat fanatisme tinggi memaksa untuk menghasilkan pertumbuhan masyarakat sipil ini secara spontan tetapi massif. Lahirnya gerakan-gerakan Peduli salah satu kandidat, Lahirnya Laskar pembela salah satu calon dan juga relawan salah satu politikus adalah contoh-contohnya serta tujuannya hanya dalam jangka waktu pendek. Menanggapi kepentingan PEMILU, pemerintah tidak dengan mudah mengambil resiko untuk tidak menyenangkan penduduk dan langkah-langkah yang dapat mempengaruhi tingkat konsumsi atau membahayakan masyarakat sipil yang lain. Cara berpikirnya pun hanya berorientasi pada kekuasaan dan uang hingga menyebabkan agenda lain tertunda atas nama demokrasi.

Dan kebesaran nama masyarakat jenis ini akan terungkap ketika dimasa-masa yang sulit, orang didalamnya bekerja berdasarkan prinsip-prinsip utama dan memikirkan kesejahteraan umum jangka panjang. Sangat sulit bagi kekuasaan politik untuk menerima kewajiban ini dalam proyek pembangunan bangsa.

Contoh sederhana diatas seolah menunjukan bahwa kalangan local dapat mengubah situasi serta asumsi masyarakat, sementara tatanan dunia politik dan demokrasi tidak mampu mengemban tanggungjawabnya secara sungguh-sungguh. Selain itu, aktivitas politik ditingkat local juga bisa diarahkan pada variasi konsumsi public, pengembangan visi sementara, dan daur ulang organisasi. demikian dengan diversifikasi politik dengan program pemberdayaan Masyarakat Sipil patut dipertahankan dan dikembangkan daripada sekedar memenangkan salah satu kandidat agar berkuasa.

Oleh karena itu, dalam menghadapi perkembangan dan perubahan jaman, pemberdayaan masyarakat sipil perlu ditekankan perannya agar tidak sekedar suatu hipotesis. Maka cara yang dilakukan masyarakat itu sendiri harus bertanggung jawab dan dalam kesempatanya merupakan bukti tambahan dari kemungkinan objektifitas dalam pembaharuan eksistensi. Sejauh masyarakat sipil terlibat dalam perubahan yang ada dan terjadi dalam masyarakat, dan sejauh ia terlibat secara terus menerus, maka masyarakat sipil akan semakin dituntut untuk bertanggungjawab dengan jujur akan potensi eksistensinya, masa depannya, keterbukaannya, serta kebebasannya.

Baca Juga : Saat Mama-Mama Papua Jualan Online

Ia bebas dari kegilaan romantisme yang selalu mencari-cari alasan untuk mengugat sahnya kebenaran ilmiah; ia bebas dari sikap arogan irasional yang hanya melihat masyarakat sebagai ilmu dan ilmu sebagai puisi, atau melihat alam semesta hanya sebatas pada republik demokrasi. Ia melihat dunia sesuai penjelasan ilmiah.

Dan menerapkan kharakteristiknya untuk meningkatkan penguasaan manusia atas segala sesuatu dengan prinsip untuk mengurangi eksploitasi manusia atas manusia lain, memperluas persahabatan pribadi agar jujur, bebas dan sejajar serta berusaha mencapai suatu masyarakat yang lebih membahagiakan dan adil satu dengan yang lain dan dengan demikian, masyarakat sipil tidak lagi sekedar hipotesis tetapi sudah menjadi suatu bentuk masyarakat real yang terus bereksistensi sampai kapanpun. Dan itu dapat ditemui dalam organisasi-organisasi entah itu intra kampus, ekstra kampus dan organisasi sosial-kemasyarakatan. ~

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.