Apa itu Budaya?

1 Like Comment
apa itu budaya?

Apa itu BUDAYA? Budaya memiliki arti yang sangat luas dan setiap bahasa bisa mengartikannya dengan berbeda. Namun, pengertian mengarah pada satu hal yakni : karya dan karsa manusia. Sebagian orang merujuk pada sastra, musik, seni dan makanan. Sementara, beberapa ahli biologi merujuk pada koloni bakteri atau mikroorganisme lain yang tumbuh atau disebut juga dengan culture.

Sementara, di Indonesia budaya berasal dari kata Buddhayah dari kata Bud yang artinya kira-kira sama. Bagi para antropolog dan ilmuwan budaya adalah pola perilaku manusia yang dipelajari. Istilah ini pertama kali di pelopori oleh Antropolog Inggris, Edward B. Tylor dalam Bukunya tentang Kebudayaan Primitif.

Tylor mengatakan bahwa budaya adalah keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, keyakinan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.” Budaya juga tidak terbatas pada pria tetapi juga perempuan. Sejak itu, budaya telah menjadi fokus utama antropologi.

Baca Juga : Mengapa Langit Berwarna Biru?

Budaya adalah alat bagi manusia untuk bertahan hidup terhadap berbagai fenomena yang rapuh. Budaya terus berubah dan mudah hilang karena hanya ada dalam pikiran kita. Misalnya, bahasa tertulis, pemerintah, bangunan dan benda-benda buatan manusia lainnya hanyalah produk budaya tetapi bukan budaya dalam diri kita.

Sementara, artefak-atefak yang ditemukan hanyalah sisa-sisa material yang menunjukan pola budaya dari suatu peradaban. Artefak tersebut tak lebih dari benda-benda yang dibuat dan digunakan untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan budaya manusia.

Lapisan Budaya

Sejauh ini, ada tiga lapisan utama yang diketahui dan merupakan bagian dari pola dan persektif terpejalar yang dihasilkan dari budaya. Yang jelas, hal pertama adalah adalah tradisi budaya membedakan perilaku tersebut secara spesifik. Ketika orang berbicara tentang budaya Jawa, mereka mengacu pada tradisi dan keyakinan bersama yang masing-masing berbeda dengan tradisi Minahasa atau Banggai Kepulauan.

Lapisan kedua adalah subkultur. Dalam masyarakat, kompleksitas kultur sangat beragam karena banyak orang tumbuh dari lapisan budaya berbeda dan tradisi yang juga berbeda. Akibatnya, mereka cenderung menjadi bagian dari subkultur yang terdentifikasi dari masyarakat baru mereka. Sifat budaya dari subkultur ini membedakan mereka dari sisa-sisa masyarakat mereka.

Baca Juga : Strategi Pelestarian Budaya Dan Bahasa Indonesia

Contoh subkultur yang mudah diidentifikasi adalah kelopok etnis seperti Cina-Korea Selatan dan Hongkong. Anggota dari subkultur ini berbagi identitas umum, tradisi makanan, dialek dan bahasa dan ciri budaya lainnya yang berasal dari latar belakang leluhur.

Karena perbedaan budaya antar anggota subkultur dan budaya nasional yang dominan kabur dan akhirnya hilang maka subkultur biasanya berhenti eksis ketika sekelompok orang mengklaim leluhur yang sama seperti yang terjadi pada orang Jerman-Amerika atau Irlandia-Amerika di AS hari ini. Sebagian besar dari mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Amerika terlebih dahulu.

Disisi lain, mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari arus utama budaya bangsa. Lapisan yang ketiga adalah universalitas budaya. Ini adalah pola perilaku yang dipelajari yang dibagikan oleh semua manusia secara kolektif. Di mana pun orang tinggal di dunia, mereka berbagi sifat-sifat universal ini. Contoh sifat “budaya manusia” meliputi:

  1. berkomunikasi dengan bahasa verbal yang terdiri dari seperangkat suara dan aturan tata bahasa yang terbatas untuk membuat kalimat.
  2. Menggunakan usia dan jenis kelamin untuk mengklasifikasikan orang (misalnya, remaja, lansia, wanita, pria)
  3. Mengklasifikasikan orang berdasarkan hubungan pernikahan dan keturunan dan memiliki istilah kekerabatan untuk merujuk kepada mereka (misalnya, istri, ibu, paman, sepupu)
  4. Membesarkan anak-anak dalam dalam pengaturan keluarga
  5. Memiliki pembagian kerja secara seksual (misalnya pekerjaan pria dan pekerjaan wanita)
  6. Memiliki konsep privasi
  7. Memiliki aturan untuk mengatur perilaku seksual
  8. Membedakan antara perilaku baik dan buruk
  9. Memiliki semacam ornamentasi tubuh
  10. Membuat lelucon dan bermain game
  11. Memiliki seni
  12. Memiliki semacam peran kepemimpinan untuk implementasi keputusan komunitas yang biasanya didominasi oleh Laki-laki seperti dalam budaya timur Indonesia.

Sebagian besar budaya mengimplementasikan daftar di atas dan mungkin sifat-sifat universal lainnya yang belum tercatat. Budaya yang berbeda telah mengembangkan cara-cara khusus untuk melaksanakan atau mengekspresikan berbagai hal.

Misalnya, orang-orang dari subkultur tunarungu sering menggunakan tangan mereka untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan bukan bahasa verbal. Namun, beberapa siyarat memiliki aturan gramatikal yang sama dengan yang dilakukan oleh bahasa verbal.

Budaya dan Masyarakat

Ini kadang dicampur adukan. Meski pada dasarnya budaya dan masyarakat adalah dua hal yang tidak sama. Budaya adalah kompleksitas dari pola dan perspektif perlilaku yang dipelajari sementara masyarakat adalah kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain yang terdiri dari campuran Individu.

Masyarakat juga organisme, itu berarti orang bukan satu-satunya spesies yang memiliki masyarakat. Ikan, kawanan burung dan sarang lebah adalah jenis masyarakat. Namun, dalam kasus manusia, masyarakat adalah sekelompok orang yang secara langsung atau tidak langsung saling berinteraksi satu dengan yang lain.

Baca Juga : 10 Fakta Perbedaan Budaya Dari Seluruh Dunia

Orang-orang dalam masyarakat umumnya merasa bahwa masyarakat mereka berbeda dari masyarakat lain dalam hal tradisi dan harapan bangsa.

Meski pada dasarnya masyarakat dan budaya manusia bukanlah hal yang sama namun mereka tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal itu dikarenakan budaya diciptakan dan ditransmisikan kepada orang lain dalam masyarakat. Budaya bukanlah produk dari individu sendirian. Mereka adalah kelompok yang terus berevolusi satu sama lain.

Pola budaya seperti bahasa dan politik tidak masuk akal keculi dalam hal interaksi antar manusia. Jika kamu hanyalah satu-satunya manusia di bumi kamu tidak membutuhkan bahasa dan pemerintah.

Apakah Budaya Terbatas untuk Manusia?

Ini adalah salah satu pembahasan yang menarik. Ada perbedaan pendapat dalam hal pembelajaran di kelas tentang apakah kita, manusia, adalah satu-satunya spesies yang menciptakan dan memiliki budaya?

Jawaban atas pertanyaan ini tergantung dalam pandangan kita tentang apa itu budaya dan bagaimana kita mendefinisikannya.

Jika digunakan secara luas untuk merujuk pada perilaku maka jelas bahwa bukan hanya manusia yang berbudaya. Banyak spesies hewan lain mengajari anak-anak mereka untuk bertahan hidup.

Hal ini berlaku pada simpanse, kera dan monyet yang relatif lebih cerdas daripada hewan lain. Ibu simpanse liar biasanya mengajari anak-anak mereka tentang beberapa ratus makanan dan obat.

Anak-anak mereka juga harus belajar tentang hierarki dominasi dan aturan sosial dalam komunitas mereka. Ketika simpanse laki-laki remaja mereka memperoleh ketrampilan berburu dari simpanse dewasa. Wanita juga harus belajar bagaimana merawat bayi mereka.

Simpanse bahkan harus belajar ketrampilan dasar seperti bagaimana melakukan hubungan seksual. Hal ini dipelajari karena ketrampilan ini tidak tertanam dalam otak mereka sejak lahir. Pola perilaku ini sama seperti yang berlaku pada manusia dan itu disebut juga budaya.

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.