3 Bahaya Mengkonsumsi Daging Anjing

2 Likes Comment
bahaya mengkonsumsi daging anjing

3 Bahaya Mengkonsumsi Daging Anjing – Bagi orang-orang Eropa, konsumsi daging anjing hampir tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, tetapi di Asia dan Afrika serta beberapa negara di Amerika latin hal ini adalah hal lazim. Sajian daging anjing bahkan sama seperti sajian daging ayam ataupun sapi.

Sebagai contoh, Di Sulawesi Utara misalnya, dulu anjing digunakan sebagai teman berburu kini sudah menjadi sajian khas di warung makan dan bahkan telah menjadi salah satu makanan favorit yang dapat dengan mudah ditemui di pasar.

Diperkirakan sekitar 1 juta anjing dibunuh setiap tahun di Indonesia meski hanya 7% saja masyarakat yang mengkonsumsinya. Selain di Indonesia, Vietnam, Rusia, Amerika Latin, Cina, Korea Selatan dan beberapa negara di Afrika juga mengkonsumsi daging anjing.

Awal januari lalu, Indonesia benar-benar mendapat sorotan penuh atas aktivitas ini, yang ditujukan kepada masyarakat di Sulut. Hal itu ditenggarai oleh sebuah foto yang beredar yang menunjukan penjegalan anjing yang sebelumnya dibunuh dengan cara disiksa. Meski sudah dibantah bahwa hal itu adalah perbedaan budaya, praktik perdagangan anjing terus terjadi.

Mereka yang menyoroti banyak datang dari komunitas hewan, selebriti nasional maupun internasional dan lain sebagainya. Selain itu, mengkonsumsi daging anjing bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang datang dari berbagai penyakit menular. Nah, berikut disajikan 3 bahaya utama mengkonsumsi daging anjing. Apa saja itu? Berikut daftarnya.

Rabies

Bahaya konsumsi daging anjing
thestar.com.my

Salah satu bahaya terbesar ketika mengkonsumsi daging anjing adalah penyebaran rabies yang datang dari daging anjing tersebut. Di Filipina misalnya, sekitar 10.000 anjing dibunuh sementara 300 orang terbunuh setiap tahun akibat rabies.

Sejauh ini sudah ada upaya dari WHO untuk memvaksinasi massal anjing untuk mencegah penyebaran rabies dari hewan ke manusia, namun proses pengadaan, pemotongan dan tingkat konsumsi terhadap daging anjing yang masih tinggi membuat upaya pencegahan ini sangat sulit untuk dilakukan

Pada dasarnya, penjegal dapat dengan mudah terinfeksi rabies selama proses pembantaian dan menyebarkan penyakit ini ke anjing dan manusia lain. Tahun 2008 lalu, 20% anjing di Rumah pemotongan hewan ditemukan positif rabies.

Kasus ini terjadi di Vietnam dimana tahun sebelumnya sekitar 30% kematian manusia disebabkan karena pembantaian anjing yang terinfeksi dengan penyakit rabies dan menular ke manusia.

Di Indonesia sendiri sejauh ini masih sedikit data yang diperoleh terkait dengan beberapa orang yagn terinfeksi rabies, namun potensinya ada dan akan terus bertambah mengingat tingkat konsumsi daging anjing yang tinggi dibeberapa tempat. Ini jelas harus menjadi perhatian utama dari pemerintah demi menjaga kualitas kesehatan publik.

Penyakit menular lain

Bahaya konsumsi daging anjing
dnaindia.com

Ada banyak penyakit dan infeksi yang disebbakan karena daging anjing yang membahayakan manusia. Bahaya itu timbul akibat infeksi parasit seperti E. Coli 107 dan Salmonella. Ada juga bahaya infeksi bakteri seperti anthrax, brucellosis, hepatitis dan leptospirosis yang dapat menyebar dari daging anjing ke manusia.

Begitu juga bakteri yang berhubungan dengan kolera dapat dengan mudah menyebar dan disebarkan melalui pengangkutan dan penyembelihan anjing untuk di konsumsi. Hal ini diperparah lagi dengan fakta bahwa mengkonsumsi daging anjing yang tersedia warung makan berpotensi 20 kali lipat terkena resiko infeksi bakteri.

Misalnya juga trichinellosis yang merupakan parasit zoonosis dapat dengan mudah ditularkan dari anjing ke manusia melalui konsumsi daging yang telah terinfeksi.

Ketika parasit ini berada dalam tubuh akan menyebabkan peradangan di pembuluh darah dan pendarahan di kuku serta mata. Selain itu, parasit ini akan melemahkan otot manusia secara perlahan. Jika tidak diobati, trichinellosis bisa berakibat fatal bagi manusia termasuk kematian.

Resistensi Antibiotik

Bahaya konsumsi daging anjing
dogtime.com

Untuk mencegah, biasa selain menggunakan vaksin ada juga retensi antibiotik yang berikan. Sebenarnya, sebagian besar anjing yang hidup dalam kurungan, dengan kondisi penuh tekanan dan biasanya diberi makanan dengan kualitas buruk menjadi penyebab utama penggunaan retensi antibiotik yang keliru.

Faktor-faktor ini menghasilkan peningkatan penyakit infeksi dengan tingkat kematian tinggi. Upaya untuk mencoba mengendalikan penyebaran penyakit dan memaksimalkan produktivitas, beberapa orang memberikan obat antibiotik atau vaksin secara sembarangan dan berlebihan.

Dengan masuknya antibiotik tersebut telah menyebabkan masalah baru dengan risiko lebih besar terhadap kesehatan manusia secara global. Penelitian terbaru terkait dengan peninjauan perlawanan antimikroba menemukan bahwa infeksi yang resisten terhadap obat dapat menyebabkan resiko terbunuhnya 10 juta orang per tahun pada tahun 2050 nanti.

Jika langkah-langkah tidak ambil untuk mengurangi penggunaan antibiotik secara sembarangan angka diatas akan bertambah. Pada dasarnya, penyebaran penyakit zoonosis ini tidak hanya disebabkan oleh anjing ada juga hewan lain termasuk kucing dan kelinci namun sejauh ini anjing memberikan kontribsui terbesar dalam peningkatan bakteri resisten antibiotik ini.

Upaya bersama menghentikan daging anjing

Bahaya konsumsi daging anjing
metrotvnews.com

Jika di Indonesia, sebagai contoh di Sulawesi Utara, masalah lokalitas dan keunikan daerah yang menjadi masalah utama ketika kampanye ini dilakukan. Namun, tidak ada salahnya jika mencoba, kan?

Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan perdagangan daging anjing. Hal itu biasa dimulai dengan mendidik diri sendiri dan orang-orang lain tentang bahaya yang dari daging anjing.

Sementara itu, mengkampanyekan permasalahan ini pada masyarakat adalah praktik yang lebih nyata sekaligus mendorong terbentuknya payung hukum yang jelas. Karena ancaman penyakit zoonosis adalah ancaman kesehatan masyarakat umum. #Dognotforfood

You might like

About the Author: miminwekerindo

Seorang full-time blogger yang baru belajar ngeblog beberapa tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.